KARAWANG – Detakpantura.comProgram Optimasi Lahan (Oplah) yang seharusnya fokus untuk membantu petani di Desa Pasirjaya, Kabupaten Karawang, justru diwarnai dengan keluhan dari pelaksana di lapangan.
Kali ini keluhan datang dari UPKK Poktan Desa Pasirjaya, Bapak Sudi Adang. Ia secara terbuka mengaku kecewa dengan ulah salah satu oknum wartawan berinisial H yang ada di Karawang.
Untuk diketahui, program Oplah ini adalah program pemerintah untuk meningkatkan hasil pertanian. Pelaksananya di tingkat desa adalah UPKK Poktan atau Unit Pengelola Keuangan dan Kegiatan Kelompok Tani. Tugasnya memastikan pekerjaan di sawah berjalan lancar, mulai dari pengolahan lahan sampai tanam.
Menurut keterangan Sudi Adang, oknum wartawan inisial H tersebut datang dan menawarkan jasa untuk mengkondisikan rekan-rekan media lain agar tidak mengganggu kegiatan poktan di lapangan.
”Alasannya untuk koordinasi media, biar rekan media lain tidak ke lokasi. Dia minta Rp 1 juta per titik lokasi,” jelas Sudi Adang.
Setelah dilakukan negosiasi, akhirnya disepakati pembayaran di awal sebesar Rp 3 juta, dan sisanya baru akan dibayarkan setelah pekerjaan proyek Oplah tersebut sudah berjalan 50 persen. Kesepakatan ini dianggap adil oleh kedua belah pihak di awal.
Namun, menurut Sudi Adang, setelah uang Rp 3 juta itu diberikan, sikap oknum wartawan tersebut justru berubah. Oknum inisial H ini malah terus meminta agar sisa pembayaran yang seharusnya dibayar belakangan, diminta untuk dibayarkan semuanya di awal.
Puncak kekecewaan Sudi Adang adalah, meski sudah membayar uang koordinasi di awal, kondisi di lapangan ternyata tidak seperti yang dijanjikan. Faktanya, kelompok tani di Desa Pasirjaya masih banyak didatangi oleh wartawan lain yang ingin konfirmasi dan liputan di lokasi.
”Kalau memang sudah dikondisikan, harusnya kan wartawan lain tidak datang lagi. Tapi ini masih banyak yang datang ke poktan-poktan. Jadi apa yang dikoordinasikan? Saya merasa dia tidak bisa memenuhi komitmen di awal,” tegasnya.
Saat dimintai keterangan lebih lanjut, Sudi Adang dengan tegas menyampaikan kekecewaannya secara langsung.
”Jujur saya kecewa berat. Niat saya bayar itu biar kerjaan poktan tenang, petani gak terganggu. Tapi buktinya wartawan lain masih pada datang. Jadi saya bayar untuk apa? Kalau begini caranya saya yang dirugikan,” ujarnya.
Ia juga mengaku bingung dengan sikap oknum wartawan inisial H tersebut yang terus menagih sisa pembayaran di awal, padahal komitmen awal belum dijalankan.
”Saya sudah baik, sudah bayar Rp 3 juta di awal sesuai janji. Tapi dia malah minta dilunasi semua di awal. Lah kalau begitu komitmennya mana? Dia janji mau kondisikan, tapi di lapangan masih rame wartawan datang ke poktan. Itu namanya tidak komitmen,” tambahnya.
Di akhir keterangannya, Sudi Adang juga memberikan pesan keras untuk oknum wartawan tersebut dan untuk para UPKK lain di Karawang agar lebih berhati-hati.
”Buat oknum inisial H, tolonglah komitmen. Jangan hanya minta uangnya saja tapi tanggung jawab tidak dijalankan. Saya ini UPKK, uang itu bukan untuk main-main. Dan buat teman-teman UPKK lain di Karawang, hati-hati kalau ada oknum wartawan yang minta jatah koordinasi mengatasnamakan media. Lebih baik ditolak saja kalau ujungnya seperti ini. Kita ini kerja untuk petani, bukan untuk setor ke oknum,” tutup Sudi Adang.
Sudi Adang menegaskan, dana yang ia keluarkan adalah untuk kelancaran program pertanian, bukan untuk hal lain. Ia berharap oknum yang bersangkutan bisa bertanggung jawab sesuai komitmen yang telah disepakati.
Hingga berita ini diturunkan, oknum wartawan berinisial H belum berhasil dikonfirmasi. Media masih berupaya meminta hak jawab dari yang bersangkutan. Rencana selanjutnya Sudi Adang akan melaporkan ke Dewan Pers dan APH
Redaksi
Oknum Wartawan Diduga Minta Jatah Koordinasi Oplah di Pasirjaya, UPKK Mengaku Kecewa Karena Tak Sesuai Janji
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang terpercaya. Perkembangan lebih lanjut akan diperbarui sesuai informasi terbaru, klarifikasi, maupun hak jawab dari pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Nilai Tukar Rupiah/Kurs
Baca Juga
Artikel Lainnya
[td_block_social_counter facebook="tagdiv" twitter="tagdivofficial" youtube="tagdiv" style="style8 td-social-boxed td-social-font-icons" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjM4IiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tYm90dG9tIjoiMzAiLCJkaXNwbGF5IjoiIn0sInBvcnRyYWl0X21heF93aWR0aCI6MTAxOCwicG9ydHJhaXRfbWluX3dpZHRoIjo3NjgsInBob25lIjp7Im1hcmdpbi10b3AiOiIxNSIsImRpc3BsYXkiOiIifSwicGhvbmVfbWF4X3dpZHRoIjo3Njd9" block_template_id="td_block_template_8" f_header_font_family="712" f_header_font_transform="uppercase" f_header_font_weight="500" f_header_font_size="17" border_color="#dd3333"]



