
KARAWANG, JAWA BARAT — detakpantura.com Pekerjaan konstruksi di wilayah Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, menjadi sorotan setelah dokumentasi lapangan pada Senin (26/10/2026) memperlihatkan kondisi pemasangan batu di area yang tampak berlumpur dan tergenang air. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai metode pelaksanaan pekerjaan, kualitas konstruksi, serta pengawasan di lapangan.
Berdasarkan foto yang diterima, terlihat material batu dipasang di area yang bercampur tanah berlumpur dan air. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena pemasangan batu pada pekerjaan konstruksi harus memperhatikan spesifikasi teknis, kondisi dasar pekerjaan, serta metode pelaksanaan yang telah ditetapkan.
Pemasangan Batu di Area Berair Perlu Diuji Kesesuaiannya

Pemasangan batu pada kondisi dasar yang berlumpur atau tergenang air berpotensi menimbulkan persoalan apabila tidak ditangani sesuai metode teknis. Namun, untuk memastikan apakah pekerjaan tersebut memenuhi standar atau justru menyimpang, diperlukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi dasar, susunan batu, bahan pengikat, serta dokumen teknis pekerjaan.
Persoalan ini tidak boleh dianggap sepele. Kualitas konstruksi bukan hanya dilihat dari material yang digunakan, melainkan juga dari proses pengerjaan, kesesuaian spesifikasi, dan pengendalian mutu selama pekerjaan berlangsung.
Pengawas, Pelaksana, dan Mandor Tidak Terlihat di Lokasi
Selain kondisi pekerjaan, keberadaan petugas pengawas juga menjadi perhatian. Berdasarkan keterangan pelapor, saat dokumentasi diambil, tidak terlihat pengawas, pelaksana, maupun mandor di lokasi pekerjaan.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana pengawasan teknis dan pengendalian mutu dilakukan. Meski demikian, ketidakhadiran petugas pada saat dokumentasi diambil belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pengawasan sama sekali tidak dilakukan.
Pelaksana dan pengawas proyek perlu memberikan penjelasan mengenai mekanisme pengawasan, pemeriksaan material, serta langkah yang diambil untuk memastikan pekerjaan sesuai dengan ketentuan kontrak.
Mandor Berinisial C Diminta Memberikan Klarifikasi
Pihak yang disebut sebagai mandor berinisial C turut diminta memberikan klarifikasi terkait metode pemasangan batu, kondisi lokasi yang tergenang air, serta pengawasan terhadap pekerjaan tersebut.
Klarifikasi ini penting agar persoalan tidak berkembang menjadi dugaan tanpa dasar. Seluruh pihak yang terlibat berhak memberikan penjelasan dan menyampaikan dokumen pendukung mengenai pelaksanaan pekerjaan.
Instansi Terkait Diminta Turun ke Lapangan
Atas kondisi tersebut, instansi teknis dan pihak yang bertanggung jawab terhadap kegiatan ini didesak melakukan pemeriksaan langsung. Pemeriksaan perlu mencakup kesesuaian pekerjaan dengan gambar teknis, spesifikasi, rencana anggaran biaya (RAB), serta ketentuan kontrak yang berlaku.
Apabila ditemukan ketidaksesuaian, pihak berwenang perlu meminta perbaikan sesuai ketentuan dan menindaklanjutinya berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Transparansi menjadi hal penting, terlebih papan informasi proyek pada foto mencantumkan kegiatan Optimalisasi Lahan Non Rawa dengan sumber dana APBN Tahun Anggaran 2026. Rincian nilai pekerjaan dan identitas pelaksana perlu diverifikasi melalui dokumen resmi agar informasi yang disampaikan kepada publik akurat.
Masyarakat berhak mengetahui apakah pekerjaan yang dilaksanakan menggunakan anggaran negara telah memenuhi standar mutu dan memberikan manfaat sebagaimana mestinya.
Hingga berita ini disusun, diperlukan konfirmasi dari pelaksana, mandor berinisial C, pengawas, serta instansi teknis terkait mengenai kondisi pemasangan batu dan mekanisme pengawasan pekerjaan tersebut.
Media membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi seluruh pihak terkait sesuai prinsip keberimbangan dan Kode Etik Jurnalistik.
Catatan redaksi: Penilaian mengenai dugaan penyimpangan mutu harus didasarkan pada pemeriksaan teknis dan bukti yang terverifikasi, bukan semata-mata penampakan visual di lokasi.
Penulis : Jaelani






